Realita Abu-abu
Masih ingat masa itu? Ketika kita meneriakkan hitam dan
putih di atas segalanya tanpa bumbu abu-abu. Orang biasanya menyebutnya
idealisme. (Affin, 2015)
Ketika hitam dan putih masih terlihat jelas terpisah adanya.
Mana yang keliru, mana yang benar. Mana yang baik, dan mana yang buruk.
Dan kini, waktu terus berjalan. Kita mulai melihat banyak
realita abu-abu, di tempat magang, di tempat kerja, atau di jalanan.
Mana yang benar dan mana yang salah? Bisa apa untuk
menghindarinya?
Untuk apa selama ini meneriakkan hitam dan putih –
idealisme? Ketika menghadapi realita di luar sana yang sedemikian pelik masih
saja bingung arah dan terjebak dalam ke-abu-abuan yang ada.
Aku ingin kembali ke rumah, ke kampus. Ke tempat dimana
hitam dan putih masih jelas terlihat bedanya.
Ketika idealisme yang ada ini tidak luntur karena realita
abu-abu.
